Partai Golkar
Partai Golkar
SITEMAP
Dewan Pimpinan Pusat

PARTAI GOLKAR

Ke atas
Politik Tirto.id

Bagaimana Sukarno Menciptakan (Partai) Golkar?

11 Aug 2017
72 Views
0 Comments

tirto.id - Partai Golongan Karya (Golkar) adalah partai tertua yang masih bertahan di zaman ini. Sebagai organisasi politik, Golkar adalah satu-satunya partai yang merasakan semua orde sejak Indonesia merdeka. Sejak kelahirannya, ia seperti tidak pernah mengalami masa surut: terus moncer di segala zaman, atau minimal tidak pernah benar-benar redup. 

Gelombang Reformasi boleh saja menggerogoti partai ini luar-dalam dan [sempat] melemparnya dari penguasa tertinggi politik Indonesia. Tapi, hingga hari ini, Golkar tetap di sana, mondar-mandir di sekitar kekuasaan.

Dari mana sebenarnya Golkar ini bermula?

Tak banyak yang tahu jika cikal bakal partai ini muncul dari terobosan politik Sukarno di akhir 1950-an. Terobosan itu diambil untuk menyikapi situasi pelik yang sedang dihadapi Sukarno. Bahkan jika ditarik lebih ke belakang, ide tentang “Golkar” sudah ada sejak tahun 1940-an dalam bentuk gagasan integralistik-kolektivis tentang bagaimana sebuah negara mesti diorganisasi. Jika diterangkan secara singkat, pemikiran integralistik ala Indonesia mengacu kepada konsepsi tradisional yang berkisar pada gagasan tentang prinsip musyawarah mufakat, bersatunya rakyat dan negara, keharmonisan, kesatuan, dan totalitas.

Gagasan tersebut mengemuka pada perdebatan dalam sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tentang bentuk negara. Pengusungnya adalah Sukarno sendiri bersama Mr. Soepomo dan Ki Hajar Dewantara [baca artikel-artikel tentang Ki Hajar Dewantara].

Pada level praksis, pemikiran integralistik ini memang tidak berhasil diterapkan pada awal mula Republik Indonesia berdiri lantaran kebijakan pemerintah tentang pembentukan partai politik tidak memungkinkannya. Tapi ia terus mengendap di benak Sukarno. Kelak, ketika saat yang dianggap tepat telah tiba, Sukarno mengambil lagi gagasan lamanya ini untuk dicoba diterapkan di Indonesia.

Setidaknya itulah yang ditengarai David Reeve dalam Golkar: Sejarah yang Hilang, Akar Pemikiran, dan Dinamika (2013). Indonesianis dari Australia itu berhasil melacak “sejarah yang hilang” dalam perjalanan Golkar yang sering luput dari pengamatan orang banyak. 

“Organisasi ini [Golkar] mulai diorganisasi sejak akhir dekade 1950-an untuk memberi bentuk terhadap gagasan kolektivis dalam perpolitikan Indonesia,” tuturnya.

Orang selama ini memang mengenal Golkar hanya sebatas sebagai “partainya Orde Baru”, "mesin politik Soeharto", “partai lama pro-pemerintah” atau “partai anti-Orde Lama”. Tapi mengabaikan fakta bahwa Golkar muncul melalui proses politik panjang jauh sebelum Orde Baru berkuasa, dan menutup mata dari ironi bahwa ia lahir justru dari sosok yang selama ini ditentangnya: Sukarno.  
          
Lahirnya Golongan Fungsional

Pada mulanya, Golongan Karya muncul sebagai wadah bagi organisasi-organisasi yang disebut sebagai “golongan fungsional”—sebuah istilah yang digunakan untuk membedakannya dengan partai-partai politik. Golongan fungsional meliputi berbagai kelompok yang dibagi bukan atas dasar ideologi atau pandangan politik, tapi berdasarkan fungsi kekaryaannya dalam masyarakat. Misalnya, golongan buruh, guru, tani, pemuda, seniman, atau wartawan. Golongan fungsional ini diidealkan bisa menjadi wadah penyalur aspirasi di luar partai-partai politik.

Gagasan tentang pembentukan wadah bagi golongan fungsional ini muncul dari kegelisahan Sukarno dan Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Haris Nasution melihat betapa rapuh dan tidak stabilnya bangunan politik Indonesia akibat perdebatan berlarut di parlemen. Mereka tidak sabar dengan pergocohan para politisi [baca serial artikel tentang Jenderal A.H. Nasution].

Sukarno dan Nasution memang bisa dianggap sebagai dua representasi utama dari kalangan sipil dan militer yang menolak dominasi partai dalam dunia politik. Dalam arti yang sesungguhnya, mereka betul-betul alergi terhadap partai. Dua orang ini juga dikenal punya kekhawatiran yang sama soal kesatuan negara yang terkoyak-koyak akibat ulah partai-partai politik.  

Sejak perdebatan bentuk negara setelah proklamasi, Sukarno menghendaki bentuk partai tunggal yang menaungi semua golongan politik di Indonesia. Ia tidak mau republik terkotak-kotak dalam sekat ideologi. Jika kita telusuri pemikiran Sukarno sejak muda, memang terasa sekali antipatinya terhadap partai politik.

Nasution setali tiga uang. Ia juga menghendaki peranan partai ditepikan karena dianggap hanya memecah belah persatuan yang dengan susah payah dibangun. Sejak awal 1950-an, Nasution sudah sangat kritis terhadap perilaku partai di parlemen—sebuah pendapat yang lazim di kalangan militer segenerasinya.
 

0 Komentar

Login Komunitas

Email Anda
Password Anda

Manfaat

  • Akses ke Forum Online Partai Golkar
  • Mendapatkan Online Newsletter Secara Berkala
  • Dapat Memberikan Komentar Pada Berita
  1. Setelah anda mendaftar anda akan menerima email verifikasi
  2. Setelah Email Verifikasi sukses, Anda akan menerima email selanjutnya yang berisikan: Nama, Email dan Password yang kami buat secara otomatis

Mari Bergabung Sekarang

Nama Anda
Email Anda

Berita Lainnya

Tidak Tersedia dalam mode landscape