Partai Golkar
Partai Golkar
SITEMAP
Dewan Pimpinan Pusat

PARTAI GOLKAR

Ke atas
Politik Kompas

Ketua DPR Anggap KPU Kurang Bijak jika Larang Mantan Koruptor Jadi Caleg

28 May 2018
104 Views
0 Comments

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mempertanyakan langkah Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang bersikukuh melarang mantan terpidana kasus korupsi menjadi calon anggota legislatif. Menurut dia, kebijakan tersebut kurang bijaksana. 

"Kami mendukung KPU menciptakan hasil demokrasi yang bersih bebas dari korupsi, namun bersikukuh menjegal mantan terpidana korupsi untuk menggunakan hak dasarnya sebagai warga negara untuk dipilih sebagai calon legislatif menurut saya kurang bijaksana," kata Bambang dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (28/5/2018), seperti dikutip Antara. Ia menjelaskan, UU Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu, telah mengatur bahwa mantan napi yang sudah menjalani masa hukuman 5 tahun atau lebih boleh mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.

Syaratnya, yang bersangkutan mengumumkan diri ke publik mengenai kasus hukum yang pernah menjeratnya. Bambang sependapat dengan pernyataan Wakil Ketua KPK Saud Sitomorang bahwa mantan terpidana korupsi boleh saja dicalonkan partainya jika memenuhi sejumlah syarat. 

"Syarat tersebut antara lain bersangkutan harus menyatakan/mendeklarasikan secara jujur bahwa dirinya mantan napi korupsi, tidak dicabut haknya oleh keputusan pengadilan, melewati jeda waktu 5 tahun jika tuntutan di atas lima tahun, menunjukkan penyesalan dan berkelakuan baik selama menjalani tahanan serta tidak mengulangi perbuatannya," ujarnya.

Bambang memiliki catatan terkait kebijakan KPU tersebut. Pertama, sikap KPU itu terlampau berlebihan dalam membangun pencitraan lembaganya. "UU sudah mengatur mengenai hak-hak seorang warga negara termasuk para mantan terpidana. Dan keputusan seseorang kehilangan hak-hak politiknya itu ada di pengadilan bukan diputuskan dalam aturan yang letaknya di bawah UU," katanya. Dia menilai, apabila KPU masih bersikukuh mengeluarkan aturan tersebut, maka sama saja dengan melawan UU.

Kedua, menurut dia, dengan keputusan itu, KPU telah merampas hak-hak dasar warga negara untuk dipilih dan memilih. "Seorang mantan narapidana setelah menjalani hukumannya dan kembali ke masyarakat maka hak dan kewajibannya sama dengan warga negara lainnya. Itu dijamin dalam konstitusi kita, kecuali pengadilan saat memutus perkara yang bersangkutan memutuskan pencabutan hak politiknya," ujarnya. Selain itu, Bambang menilai, KPU juga telah merampas hak warga negara yang akan memilih calon yang dijegal tersebut, mulai dari keluarga, kerabat hingga masyarakat dimana mantan terpidana itu berdomisili.

0 Komentar

Login Komunitas

Email Anda
Password Anda

Manfaat

  • Akses ke Forum Online Partai Golkar
  • Mendapatkan Online Newsletter Secara Berkala
  • Dapat Memberikan Komentar Pada Berita
  1. Setelah anda mendaftar anda akan menerima email verifikasi
  2. Setelah Email Verifikasi sukses, Anda akan menerima email selanjutnya yang berisikan: Nama, Email dan Password yang kami buat secara otomatis

Mari Bergabung Sekarang

Nama Anda
Email Anda

Berita Lainnya

Tidak Tersedia dalam mode landscape