Partai Golkar
Partai Golkar
SITEMAP
Dewan Pimpinan Pusat

PARTAI GOLKAR

Ke atas
Nasional Sindo News

Pos: Literasi, Diplomasi, Sampai Reposisi

29 Sep 2017
Sindo News
69 Views
0 Comments

Kemarin (27/9), kita mem peringati Hari Bakti Postel. Tepat 72 tahun yang lalu telah terjadi peristiwa ber sejarah di mana Angkatan Muda PTT (Pos, Telegraf, dan Telepon) berjuang mengambil alih kekuasaan Jawatan PTT RI (kini menjadi PT Pos Indonesia) yang sebelumnya dikuasai militer Jepang. 

Sebagai sebuah korporasi tertua (271 tahun) di Indonesia, PT Pos Indonesia telah men jadi bagian penting dalam ke hidupan sehari-hari m asyarakat sejak tahun 1602. Groote Post weg (Jalan Raya Pos) sepanjang 1.000 km dari Anyer sampai dengan Panarukan menjadi saksi bisu begitu pentingnya layanan pos. Bisa dikatakan pada masa-masa itu kantor pos telah menjadi ikon peradaban. 

Literasi 

Pada bulan Juni lalu bertempat di Kantor Pos Jakarta Timur, saya menghadiri acara peluncuran Gerakan Literasi Nasional Pos Indonesia. Pada kesempatan itu bersama dengan jajaran Direksi PT Pos Indonesia turut hadir Menkominfo Rudiantara, Deputi Kemendikbud dan Kementerian BUMN, serta Du ta Baca Indonesia Najwa Shi hab. 

Kehadiran seluruh stake holder tersebut per tanda banyaknya komponen yang mendukung kesuksesan gerakan ini. Gerakan ini memberikan kesem patan kepada masyarakat luas untuk mengirimkan buku donasi dengan gratis keseluruh pelosok negeri sampai dengan 10 kg setiap bulan di tanggal 17. 

Dalam seminggu pertama, program tersebut sudah mengirimkan buku sebanyak 7 ton! Tujuan dari gerakan ini sendiri adalah mendukung pemerataan pendidikan melalui budaya literasi, menumbuhkan ke cintaan masyarakat kepada buku, sekaligus merupakan jawaban pemerintah kepada pegiat literasi atas keluhan tingginya biaya pengiriman buku, terutama ke daerah-daerah terdepan. 

Selain itu, hal ini sangat baik sebagai salah satu jawaban atas persoalan masyarakat kita saat ini: Hoax. Hoax, fake news, konten negatif, dan provokatif, telah begitu menghantui kehidupan informasi kita saat ini, terutama melalui sosial media dan internet. Memang, kita patut bersyukur bahwa Indeks Ke bebasan Pers kita telah mengalami per baikan dari waktu kewaktu, bahkan menurut International Free dom House, Indonesia sudah jauh lebih baik di atas negara ASEAN. Namun demikian, dalam pencapaian tersebut, kita telah melahirkan setidaknya 43.000 media online yang mana dari jumlah tersebut hanya terdapat 68 media yang lolos verifikasi (IKP 2016). 

Belum lagi persoalan penyebaran informasi publik yang masih sangat timpang antara penduduk di Pulau Jawa dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia. Jelas kondisi ini tidaklah ideal bagi kita, perbaikan kualitas dan distribusi informasi harus terus kita tingkatkan. Ruang kebebasan yang ada perlu diimbangi dengan memperbanyak akses dan pilihan sumber informasi yang valid, seperti buku. 

Saya berharap gerakan literasi PT Pos Indonesia dengan layanan ini bisa terus berjalan, terutama layanan kiriman harus lebih menjangkau daerahdaerah yang mengalami ketimpangan informasi. 

Diplomasi 

Pada bulan ini PT Pos Indonesia telah melakukan dua hal yang menarik perhatian saya, keduanya terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan. 

Per tama, adalah terobosan PT Pos Indonesia yang melakukan kerjasama dengan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) dalam membuka penambahan akses bagi masyara kat untuk melakukan pembayaran PBB. Hal tersebut akan se makin mempermudah masyara kat, terutama yang letak tempat tinggalnya di pelosok karena jaringan PT Pos Indonesia adalah yang termudah dijangkau di situ. 

Kedua,bukan hanya sekadar urus an pemerintahan di dalam negeri, PT Pos Indonesia bekerja sama dengan Perum PERURI, Kemenkominfo, dan Kemenlu telah ikut membantu upaya peningkatan hubungan antar negara dengan prangko penerbitan bersama (Joint Issue of Stamp) dengan Singapura. 

Prangko ini diterbitkan dalam me rayakan 50 tahun (golden jubilee) hubungan diplomatik Indonesia-Singapura. Penerbitan prang ko bersama yang dilakukan PT Pos Indonesia dengan melibatkan multistakeholder seper ti ini jelas sangat baik untuk se cond-track diplomacy kita. 

Reposisi 

Revolusi industri ke-4 (The Fourth Industrial Revolution) telah membuka cara baru manusia dalam melihat tantangan du nia ke depan. Sebagaimana revolusi industri ke-2 dan ke-3, perubahan yang terjadi kembali men ciptakan redesign sistem pro duksi dan konsumsi yang lebih efisien. Pergeseran tren dalam berbagai bidang terutama in formasi. 

Hal tersebut tidak bisa kita mungkiri juga sangat berpengaruh dalam peran banyak perusahaan pos di dunia tidak terkecuali PT Pos Indonesia. Lahirnya internet, e-mail,, ser ta berbagai platform pesan di gital mulai dari SMS, BBM, sampai WhatsApp yang begitu populer dalam keseharian kita saat ini telah menjadikan peran sen tral PT Pos Indonesia terus mengalami penurunan. 

Namun, dengan jaringannya yang begitu raksa sa hingga 4.800 Kantor Pos Online dan Titik Layanan (Point of Sales) yang mencapai 58.700 titik, PT Pos telah menjadi satu-satunya perusahaan yang mampu menjangkau 100% kota/kabupaten atau lebih dari 90% kecamatan dan 40% kelurahan/desa serta 940 lokasi transmigrasi terpencil di Indonesia. 

Angka tersebut men jadikan PT Pos Indonesia m e rupakan perusahaan pos negara dengan jumlah kantor pos terbanyak ketiga di dunia (Univer sal Postal Union, 2015). Hal ini tidak boleh disia-siakan, sebagai aset negara yang berperan sangat penting dalam arus informasi, PT Pos Indonesia adalah ”Singa” milik Indonesia. 

Merujuk pada situasi ini, banyak perusahaan layanan pos di seluruh dunia melakukan perubahan pada portofolio bisnis mereka. Mereka yang ter lambat me nyesuaikan diri dengan perubahan zaman akan tergerus, seperti United States Postal Service (USPS) di Amerika Serikat. 

Pe rihal ini, kita perlu berkaca dengan keberhasilan perusahaan pos di negara lain, seperti Ja pan Post Group yang mereposisi dengan merambah jasa keuangan. Sebaliknya PT Pos Indonesia saat ini justru mengalami penurunan sebesar 14,25% (Annual Re port 2016). Hal ini harus segera di perbaiki jika PT Pos Indonesia ingin benar-benar melakukan repo sisi dengan cepat. 

Un tuk mencapai hal itu, peningkatan kinerja SDM harus diperbaiki. Penurunan Key Per formance Indicator (KPI) sebesar 1,14% pada tahun ini bisa dijadikan lampu kuning bagi PT Pos Indonesia. Memang harus diakui, ukurannya yang sangat besar dengan segala beban operasionalnya bisa membuat proses kreatif menja di lebih sulit. 

Kebijakan pemerintah melalui Paket Kebijakan XIV yang termasuk di dalamnya pe ningkatan dan perbaikan Sistem Logistik Nasional (Sislognas), ditambah konsistensi dukungan dari Menkominfo selama ini, bisa menjadi faktor pendukung signifikan bagi percepatan proses reposisi. Pada akhirnya, saya berharap di usianya yang sudah menca pai 271 tahun ini, PT Pos Indo nesia dapat lebih serius dalam me lakukan reposisi demi tercapainya tujuan memberikan layanannya kepada rakyat Indonesia. 

Keberhasilan PT Pos Indonesia dalam melakukan reposi si bukan hanya akan menjadi bentuk konkret dari pelak sanaan Pasal 3(c) UU Nomor 38/ 2009, tetapi lebih jauh, yaitu turut memperkokoh kedaulatan Indonesia. Pada hari yang bersejarah ini, saya ingin mengajak kepada seluruh elemen yang ada di PT Pos Indonesia agar bisa le bih semangat lagi dalam berkar ya dan berinovasi. Selamat Hari Bakti Postel Republik Indonesia. 

 

MEUTYA HAFID 

Wakil Ketua Komisi I DPR-RI, Dapil Sumut I

0 Komentar

Login Komunitas

Email Anda
Password Anda

Manfaat

  • Akses ke Forum Online Partai Golkar
  • Mendapatkan Online Newsletter Secara Berkala
  • Dapat Memberikan Komentar Pada Berita
  1. Setelah anda mendaftar anda akan menerima email verifikasi
  2. Setelah Email Verifikasi sukses, Anda akan menerima email selanjutnya yang berisikan: Nama, Email dan Password yang kami buat secara otomatis

Mari Bergabung Sekarang

Nama Anda
Email Anda

Opini Lain

Tidak Tersedia dalam mode landscape