Partai Golkar
Partai Golkar
SITEMAP
Dewan Pimpinan Pusat

PARTAI GOLKAR

Ke atas
Energi Fraksi Golkar

Sumpah Pemuda Era Digital

15 Dec 2016
Fraksi Golkar
0.0M Views
0 Comments

Sumpah Pemuda 1928 adalah sebuah nilai kebangsaan. Sumpah itu yang menyatukan seluruh pemuda Indonesia lintas etnis, daerah, suku, dan agama. Sebagai sebuah “nilai”, Sumpah Pemuda tak boleh lekang oleh zaman. Harus terus diperbaharui. Nilai itu lahir dari pikiran generasi muda. “Muda” adalah generasi yang posisinya berada di ujung sebuah era, garis batas menuju era yang selanjutnya. Pemuda adalah idiom untuk mereka yang “berdiri” di gerbang pergantian zaman. Jadi, nilai-nilai sumpah pemuda harus terus hidup di setiap zaman. Tak boleh stagnan.

Untuk tetap menghidupkan nilai Sumpah Pemuda, dibutuhkan interpretasi yang dinamis di setiap pergantian zaman. Setiap generasi di Indonesia harus memiliki interpretasi yang baru tentang makna sumpah pemuda, sesuai tantangan zamannya yang berbeda-beda. Makna tanah air satu, bangsa satu, dan bahasa satu Indonesia yang diikrarkan dalam sumpah pemuda harus terus ditafsirkan di setiap zaman. Ketika ketiga hal tersebut berhenti ditafsirkan, maka generasi muda Indonesia akan menjadi lost generations. Mereka akan asing dengan apa yang dinamakan “Tanah Air”, “Bangsa”, dan “Bahasa”. Saat ini saja, pemuda Indonesia berada di zaman yang tidak lagi ada sekat “tanah” (geografis), nation (globalisasi), dan bahasa (bahasa universal).

Kini, generasi muda Indonesia berada di era digital. Di era ini, definisi tentang batas-batas negara, bangsa, dan bahasa tak lagi kaku seperti dulu. Teknologi digital bisa menghubungkan satu anak muda Indonesia dengan anak muda negara lain dalam sekejap. Ini bisa jadi berkah, tapi bisa juga berbalik jadi bencana. Generasi muda kita bisa menjadi leader global atau malah follower lokal. Bisa menjadi pemain atau justru penonton. Bisa mempengaruhi dunia, atau justru digerus pengaruh dunia.

Era digital pisau bermata dua bagi generasi muda Indonesia. Semakin canggihnya teknologi informasi potensial menjadi instrumen pemersatu pemuda Indonesia. Tapi juga potensial menjadi pemecah belah anak bangsa. Mereka bisa terpapar pengaruh global dan kehilangan karakter nasionalnya. Pemuda-pemudi Indonesia harus menyadari efek ganda ini. Jangan sampai jadi korban digital. Generasi muda Indonesia harus mampu mendrive teknologi untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu mewujudkan masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila.

Positif-negatifnya era digital tergantung bagaimana mereka memahami teknologi digital dan bagaimana mempergunakannya. Era digital menuntut generasi muda Indonesia untuk inovatif, kreatif, dan berjiwa out of box. Ini bukan lagi era pakem yang kaku. Segalanya cair dan fleksibel. Generasi digital Indonesia juga harus begitu. Namun bukan berarti hilang karakter dan kering jati diri. Dibalik kecairan dan fleksibilitasnya, generasi digital menyimpan prinsip yang kuat. Mereka adalah individu-individu yang unik dan percaya diri dengan keunikannya itu. Mereka antikemapanan: dinamis, progresif, dan selalu aktual.

Menurut Survei Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia, pada tahun 2016, jumlah pengguna internet di Indonesia sebanyak 88 juta orang. Sebanyak 49 persen dari mereka berusia 18-25 tahun dan 33 persen berusia 26-35 tahun. Mayoritas pengguna aktif dunia digital adalah generasi muda Indonesia. Ke depan, persentasenya akan semakin besar. Jadi, sejak sekarang sudah harus ada langkah serius untuk menyiapkan generasi digital Indonesia yang tidak lupa pada keindonesiaannya. Mereka harus tetap berjati diri Indonesia, meski berpikir global.

Dunia pendidikan Indonesia harus menangkap gejala ini dengan responsif. Tuntutan era digital hedaknya diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan nasional, agar generasi muda Indonesia menjadi generasi “berkarakter Indonesia sekaligus digital”. Tidak menjadi generasi yang: “digital melulu” atau “Indonesia lampau”. Yang dibutuhkan adalah perpaduan antara keindonesiaan dan kedigitalan. Kedigitalan melekat pada keindonesiaan. Keindonesiaan juga ada pada kedigitalan. Yang kita butuhkan adalah Pemuda Indonesia Digital.

Untuk era 1928, ikrar Sumpah Pemuda adalah lompatan jauh ke depan pemuda Indonesia membaca perkembangan zaman. Berhasil melahirkan sebuah Sumpah yang menyatukan Nusantara merupakan capaian futuristik. Padahal, saat itu belum ada perangkat teknologi untuk berkomunikasi dan menebar informasi. Tapi mereka berhasil menyatukan visi kebangsaan. Mereka generasi-generasi yang tidak terpaku oleh zamannya, malah bisa melampauinya. Generasi muda Indonesia era digital saat ini juga harus menyerap spirit yang sama. Mereka tak bisa hanya mengadalkan format Sumpah Pemuda “klasik”, tapi harus mentransformasikannya sesuai tuntutan era digital saat ini.

Sebagaimana generasi 1928, pemuda digital juga harus melampaui zaman pra-digital (analog). Jika pemuda Indonesia era 1928 mampu mencanangkan tiga ikrar, maka pemuda Indonesia era digital harus mencanangkan tekad tambahan: “Kita pemuda-pemudi Indonesia, yang hidup di era global, bercita-cita satu, siap mengarungi dan menguasai era digital, menuju kejayaan bangsa Indonesia”.

Jika pada 1928, Sumpah Pemuda berhasil menyatukan anak bangsa karena nilainya yang visioner. Maka kini, persatuan pemuda Indonesia hanya bisa dicapai dengan resep serupa: visi digital. Pemuda kita harus bisa memanfaatkan era digital sebagai instrumen menjalin persatuan bangsa dan negara. Sebaliknya juga: mereka harus bisa membendung efek negatif teknologi digital yang berpotensi menciptakan disintegrasi. Beberapa anak muda kreatif telah menunjukkan prestasi ini. Mereka melahirkan kerja-kerja nyata berbasis digital yang terbukti berhasil menyatukan visi kebangsaan.

Gerakan digital Indorelawan.org inisiasi Masya Anggia, Kitabisa.com gagasan M. Alfatih Timur, dan Change.org sederet gagasan inovatif anak muda yang berhasil menjadi wajah baru Sumpah Pemuda. Dalam bidang bisnis, muncul beberapa platform bisnis digital gagasan anak muda: Go-Jek, Kaskus, Bukalapak, dan lainnya. Mereka sukses mentransformasikan spirit Sumpah Pemuda dalam wajah digital. Nilai yang diusung tetap sama dengan nilai 1928, hanya berbeda dalam instrumennya saja. Mereka adalah generasi yang melakukan Sumpah Pemuda di era digital.

Pemuda Indonesia harus terus membuktikan rasa kebangsaan dan nasionalismenya dengan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Nasionalisme mewujud dalam tindakan. Selain menjaga persatuan, kesatuan berbangsa dan bernegara, juga harus menghasilkan karya yang membanggakan bangsa Indonesia. Inilah misi Sumpah Pemuda era digital.

Semua kembali pada visi pemuda Indonesia tentang era digital. Beberapa generasi muda Indonesia telah mampu memanfaatkan instrumen era digital untuk mengaktualisasikan peran baru pemuda. Di era digital ini, nilai sumpah pemuda harus ditransformasikan. Nilanya tetap yang lama, namun instrumennya harus baru. Sumpah pemuda harus tampil sesuai dengan karakteristik era digital, agar lahir Sumpah Pemuda Digital.

Sumber

0 Komentar

Login Komunitas

Email Anda
Password Anda

Manfaat

  • Akses ke Forum Online Partai Golkar
  • Mendapatkan Online Newsletter Secara Berkala
  • Dapat Memberikan Komentar Pada Berita
  1. Setelah anda mendaftar anda akan menerima email verifikasi
  2. Setelah Email Verifikasi sukses, Anda akan menerima email selanjutnya yang berisikan: Nama, Email dan Password yang kami buat secara otomatis

Mari Bergabung Sekarang

Nama Anda
Email Anda

Opini Lain

Tidak Tersedia dalam mode landscape