Partai Golkar
Partai Golkar
SITEMAP
Dewan Pimpinan Pusat

PARTAI GOLKAR

Ke atas
Politik Fraksi Golkar

Donald Trump, Ahok, dan Kita

14 Dec 2016
Fraksi Golkar
0.0M Views
0 Comments

Kemenangan Donald Trump kemarin mengejutkan banyak pihak tapi tidak bagi sekelompok pengamat termasuk saya yang mengikuti proses pilpres AS dari awal hingga hari pencoblosan secara netral (tidak memihak ke siapapun). Bagi saya baik Trump maupun Clinton mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam konteks hubungan bilateral dengan Indonesia.

Pengamatan saya, kemenangan Trump disebabkan oleh dua hal. Pertama, kehandalannya dalam memelihara basis suara di red states, yang secara tradisional adalah pendukung Partai Republik. Di sisi lain, Hillary gagal menjaga dukungan buatnya dari basis-basis Demokrat selama ini.  Ironisnya lagi di kampung halamannyapun, Arkansas Hillary kalah.

Barangkali karena kurangnya waktu atau strategi yang tidak tepat, Hillary tidak sempat berkunjung ke negara-negara bagian utama yang menjadi basis dukungannya PD selama ini. Dan ternyata dia memang kalah di sana.

Kedua, masyarakat dunia saat ini menginginkan perubahan. Mereka menggandrungi pemimpin yang tidak mainstream. Polished politicians menyingkir dulu deh.

Trump itu mulutnya jorok. Dia menistakan lawan-lawannya di depan publik. Dia menyerang kelompok etnis dan kepercayaan tertentu, tapi toh rakyat Amerika tetap memilihnya. Artinya, rakyat lebih percaya content daripada delivery. Itulah mengapa tokoh-tokoh seperti Trump, Duterte dan Ahok naik daun.

Pada perspektif ini, calon kita berada di atas angin. Namun pada perspektif lain, ada juga hal-hal yang patut kita catat dan renungkan. Bagaimana mungkin kan seorang calon yang diyakini betul akan menang, pada kenyataannya kalah menyakitkan?. Inilah politik tapi politik sesungguhnya bisa dirasionalisasikan.

Dalam pengamatan saya, Hillary dan timnya terlalu terlena oleh statusnya sebagai incumbent dan terbuai oleh berbagai hasil survei yang selama ini mengunggulkannya.Kita tidak memperdebatkan lembaga survei karena mekasnime dan sistem yang dipergunakan oleh lembaga-lembaga survei kredibel. Pastilah bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Perdebatan kita bukan di sana.

Saya hanya menyoroti satu hal yang menurut saya tidak terekam dengan baik oleh lembaga-lembaga survei yaitu suasana kebatinan di masyarakat. Dari sekian banyak jualan Trump, ada tiga program yang mengena di masyarakat; tolak imigran, singkirkan Muslim dan tolak LGBT.

Tiga janji Trump ini seperti menjadi pemuas dahaga rakyat Amerika, khususnya yang tinggal di bagian selatan Amerika atau yang biasa disebut dengan Red States. Sebagai masyarakat tradisional dan masih puritan, tiga hal tersebut adalah kekhawatiran utama mereka selama ini.

Saya sedikit banyaknya tahu mengenai hal ini karena sebagai pencinta dan penggiat musik country. Setiap kali saya ke Amerika, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke Tennessee, Oklahoma, Alabama dan lain-lain. Karena di sinilah basis musik country. Sedikit banyak saya mengenal karakter dan kebiasaan mereka. Mereka masih rajin ke gereja dan menjadikan pendeta sebagai informal leaders.

Masyarakat di red states begitu mempercayai Trump akan menjadi penyelamat. Baru kali ini setelah sekian lama, ada capres yang mengusung interest mereka.

Kelompok masyarakat tradisional dan puritan ini adalah silent majority yang jauh dari hiruk pikuk sosmed. Mereka yang kebanyakan adalah petani dan blue collar sudah menentukan pilihannya jauh sebelum hari pencoblosan.

Mereka firm dengan pilihan sehingga apapun yg ditawarkan Hillary, tidak lagi menarik buat mereka. Mereka tidak lagi bisa dipengaruhi oleh hasil survei. Hasil debat dan pemberitaan di media yang tidak memihak ke Trump. Tanggal 8 Nopember rakyat Amerika menunjukkan perlawanannya.

Dalam konteks Ahok. Sebagaimana yang saya uraikan di atas, Ahok mempunyai comparative advantages yang tidak dimiliki lawan-lawannya. Baik Anies maupun Agus paling tidak sampai saat ini belum berhasil memunculkan diferensiasi. Mereka jauh dibanding Ahok, apalagi beliau incumbent.

Ahok berada pada posisi yang sangat diuntungkan. Namun adanya fakta yang berkembang di masyarakat akibat provokasi dan sebagainya.  Bahwa mereka mengakui keberhasilan, kepiawaian dan ketegasan Ahok dalam memimpin DKI namun akan memilih pemimpin Muslim harus dihidangkan dan dibahas di rapat-rapat.

Kita tidak boleh alergi dengan bad news. Janganlah setiap ada yang membawa laporan dari lapangan dianggap enteng. Semuanya adalah informasi berguna dalam rangka merumuskan strategi yang tepat dan jitu. Kita tidak berharap Ahok seperti Hillary yang terbuai oleh informasi dan berita-berita manis dan akhirnya jadi over confident. Over confidence kills.

Riak-riak dan suasana kebatinan di masyarakat harus direkam dengan baik untuk kemudian dibahas dan dicarikan solusinya di rapat-rapat. Dengan keunggulan-keunggulan yang dimiliki Ahok, dan didukung mesin partai yang militan, insyaallah jago kita akan menang. Salam perjuangan.

Sumber

0 Komentar

Login Komunitas

Email Anda
Password Anda

Manfaat

  • Akses ke Forum Online Partai Golkar
  • Mendapatkan Online Newsletter Secara Berkala
  • Dapat Memberikan Komentar Pada Berita
  1. Setelah anda mendaftar anda akan menerima email verifikasi
  2. Setelah Email Verifikasi sukses, Anda akan menerima email selanjutnya yang berisikan: Nama, Email dan Password yang kami buat secara otomatis

Mari Bergabung Sekarang

Nama Anda
Email Anda

Opini Lain

Tidak Tersedia dalam mode landscape