Breaking News
SC Rapimnas Optimis Partai Golkar Solid

SC Rapimnas Optimis Partai Golkar Solid

Jakarta - Kisruh internal Golkar menjelang rapat pimpinan nasional (Rapimnas) yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat tampaknya hanya isapan jempol belaka.

Seperti ditegaskan oleh Ketua Steering Committee (SC) Rapimnas Partai Golkar, Nurdin Halid, ‘naik turun’ di tubuh Golkar dianggap sebagai dinamika. Begitu saatnya datang, semuanya pasti solid.

Selain itu, para anggota Golkar adalah orang-orang yang taat asas dan aturan, sehingga masalah-masalah yang dihembuskan pihak tertentu hanyalah isu kosong.

Sebagai contoh, muncul isu bahwa para pengurus Golkar di daerah menginginkan agar semua diikutsertakan di Rapimnas. Tentu ini berkaitan dengan isu bahwa pengurus daerah, khususnya di tingkat kabupaten/kota, ingin menggoyang pencapresan Aburizal Bakrie.

“Tapi sampai sekarang tak ada itu surat permintaan dari pengurus DPD I dan DPD II yang minta aneh-aneh,” ujar Nurdin kepada wartawan di Jakarta, Kamis (14/11)

“Orang Golkar itu taat asas, mereka tahu aturan dan mekanisme. Tak ada DPD I meminta DPD II diikutkan, begitupun DPD II tak pernah menyurati itu. Di AD/ART, soal itu, jelas asasnya.”

Atau contoh lain terkait isu Munas Golkar, di mana ada pemilihan pengurus baru, yang disebut harus dipercepat pada 2014, sementara DPP Golkar sudah merencanakannya pada 2015.

Seperti dijelaskan Nurdin, hasil Munas Pekanbaru 2009 lalu memutuskan supaya kepengurusan sekarang ini diperpanjang sampai 2015. Artinya, Munas pun harus dilaksanakan 2015, bukan di 2014 seperti diisukan berbagai pihak.

Di 2015 supaya waktu persiapan untuk pilpres 2014 dan Munas Golkar tak terlalu dekat.

“Tujuannya supaya fungsionaris partai tak pecah konsentrasi. Kalau dilaksanakan berbarengan, itu pasti pecah konsentrasi dari atas sampai bawah. Itu pemikiran pengurus yang dulu. Dan Munas menyetujui,” tegasnya.

“Soal hal Munas itu dilaksanakan 2015 tak dimasukkan ke revisi AD/ART di Kemenkumham, itu tak masalah. Karena bagaimanapun hasil munas itu keputusan tertinggi. Lagipula kan tak semua keputusan munas dibawa ke revisi AD/ART di Kemenkumham.”

Lebih jauh, dia menekankan bahwa semua masalah yang diembuskan itu ternyata tak direspons kader Golkar, dan itu disebabkan Golkar sudah belajar dari pengalaman sebelumnya.

Diketahui pada 2004 dan 2009 lalu, ketidaksolidan itu yang membuat Golkar gagal meraih hasil maksimal di dalam pilpres.

“Kami tak mau mengulangi lagi kelemahan yang dulu. Tidak mungkin lah kami mau kembali jatuh ke lubang yang sama,” tandas Nurdin.

sumber: beritasatu.com

Bagaimana menurut Anda?

PILIH NO.5
Scroll To Top